31 Januari 2012
Tanah Gersang
Dalam hubungan - hubungan yang kita jalin dalam kehidupan,
setiap orang adalah guru bagi kita.
Ya, setiap orang. Siapapun mereka. Yang baik, juga yang jahat. Betapapun yang mereka berikan pada kita selama ini hanyalah luka, rasa sakit, kepedihan, dan aniaya, mereka tetaplah guru - guru kita. Bukan karena mereka orang - orang yang bijaksana. Melainkan karena kitalah yang sedang belajar untuk menjadi bijaksana.
Mereka mungkin tanah gersang. Dan, kitalah murid yang belajar untuk menjadi bijaksana. Kita belajar untuk menjadi embun pada paginya, awan teduh pada siangnya, dan rembulan yang menghias malamnya.
Tetapi barangkali, kita justru adalah tanah yang paling gersang. Lebih gersang dari sawah yang kerontang. Lebih cengkar dari lahan kering di kemarau yang panjang. Lebih tandus dari padang rumput yang terbakar dan hangus. Maka bagi kita sang tanah gersang, selalu ada kesempatan manjadi murid bijaksana.
Seperti matahari yang tak hendak dekat - dekat bumi karena khawatir nyalanya bisa memusnahkan kehidupan. Seperti gunung api yang lahar panasnya kelak menjelma lahan subur, sejuk menghijau berwujud hutan.
Dan seperti batu cadas yang memberi kesempatan lumut untuk tumbuh di permukaannya. Dia izinkan sang lumut menghancurkan tubuhnya, melembutkan kekerasannya. Demi terciptanya butir - butir tanah. Demi tersedianya unsur hara agar pepohonan berbuah.
setiap orang adalah guru bagi kita.
Ya, setiap orang. Siapapun mereka. Yang baik, juga yang jahat. Betapapun yang mereka berikan pada kita selama ini hanyalah luka, rasa sakit, kepedihan, dan aniaya, mereka tetaplah guru - guru kita. Bukan karena mereka orang - orang yang bijaksana. Melainkan karena kitalah yang sedang belajar untuk menjadi bijaksana.
Mereka mungkin tanah gersang. Dan, kitalah murid yang belajar untuk menjadi bijaksana. Kita belajar untuk menjadi embun pada paginya, awan teduh pada siangnya, dan rembulan yang menghias malamnya.
Tetapi barangkali, kita justru adalah tanah yang paling gersang. Lebih gersang dari sawah yang kerontang. Lebih cengkar dari lahan kering di kemarau yang panjang. Lebih tandus dari padang rumput yang terbakar dan hangus. Maka bagi kita sang tanah gersang, selalu ada kesempatan manjadi murid bijaksana.
Seperti matahari yang tak hendak dekat - dekat bumi karena khawatir nyalanya bisa memusnahkan kehidupan. Seperti gunung api yang lahar panasnya kelak menjelma lahan subur, sejuk menghijau berwujud hutan.
Dan seperti batu cadas yang memberi kesempatan lumut untuk tumbuh di permukaannya. Dia izinkan sang lumut menghancurkan tubuhnya, melembutkan kekerasannya. Demi terciptanya butir - butir tanah. Demi tersedianya unsur hara agar pepohonan berbuah.
Disalin dari :
Dalam Dekapan Ukhuwah - Salim A. Fillah
Yang Manakah Engkau
yang aku tahu
ada dua jenis manusia di bumi ini
hanya ada dua sungguh, tak lebih
bukan pendosa dan orang suci, karen lazimnya
sulit mencari kebajikan yang murni, ataupun
kejahatan yang sama sekali tak berbelas kasih
bukan yang kaya dan yang miskin, sebab
untuk membedakan keduanya kita harus tahu
kelimpahan nurani dan kesehatannya
bukan yang rendah hati dan si sombong diri
karena sepanjang kehidupan, siapapun yang sombong
takkan lagi dianggap manusia
bukan yang bahagia dan yang bersedih hati
karena tahun - tahun yang lewat, membawakan tawa
silih berganti dengan duka bagi tiap manusia
tidak,
dua macam manusia yang kita bicarakan adalah
mereka yang mengangkat dan mereka yang membebani
dengan kedua jenis ini kita berjumpa, kemanapun kita pergi
kita bahkan merasa akan hanya ada seorang pengangkat
untuk tiap duapuluh orang yang membebani
termasuk yang manakah engkau
apakah kau meringankan beban, bagi para pengangkut yang lemah
ataukah engkau seorang penyadar, yang mana sesama kau biarkan
ikut merasakan tanggungan, kekhawatiran dan masalahmu
atau bahkan engkaulah yang membawa segala duka dan derita
untuk memberati pundak - pundak mereka
-Ella Wheeler Wilcox
ada dua jenis manusia di bumi ini
hanya ada dua sungguh, tak lebih
bukan pendosa dan orang suci, karen lazimnya
sulit mencari kebajikan yang murni, ataupun
kejahatan yang sama sekali tak berbelas kasih
bukan yang kaya dan yang miskin, sebab
untuk membedakan keduanya kita harus tahu
kelimpahan nurani dan kesehatannya
bukan yang rendah hati dan si sombong diri
karena sepanjang kehidupan, siapapun yang sombong
takkan lagi dianggap manusia
bukan yang bahagia dan yang bersedih hati
karena tahun - tahun yang lewat, membawakan tawa
silih berganti dengan duka bagi tiap manusia
tidak,
dua macam manusia yang kita bicarakan adalah
mereka yang mengangkat dan mereka yang membebani
dengan kedua jenis ini kita berjumpa, kemanapun kita pergi
kita bahkan merasa akan hanya ada seorang pengangkat
untuk tiap duapuluh orang yang membebani
termasuk yang manakah engkau
apakah kau meringankan beban, bagi para pengangkut yang lemah
ataukah engkau seorang penyadar, yang mana sesama kau biarkan
ikut merasakan tanggungan, kekhawatiran dan masalahmu
atau bahkan engkaulah yang membawa segala duka dan derita
untuk memberati pundak - pundak mereka
-Ella Wheeler Wilcox
25 Januari 2012
Why ?
Baterai laptop pun semakin melemah. Senja telah datang sambil membawa angin - angin yang tak pernah berhenti bergerak. Sayup - sayup disana terdengar suara orang 'berjanjenan' (Tradisi membaca Al Barzanji sejak 12 hari sebelum Maulid Nabi) dari desa sebelah.
"Ya Rosulallah salamun 'alaik
Ya Rofi'asya Ni Waddaroji
'Atfatayyaji rotal'alami
Ya uhailalju diwalkaromi."
Itulah sebagian syair yang masih saya ingat.
Dalam kegelapan kami senantiasa berdoa semoga akan ada cahaya. Ya, cahaya. Untuk membantu kami supaya benar dalam melangkah. Karena dalam kegelapan terdapat kengerian yang tak pernah terbantahkan. Dalam kegelapan orang tidak akan tau mana utara mana selatan. Dalam kegelapan orang tidak tau mana barang yang benar dan mana yang salah. Dalam gelap orang akan melangkah dalam kondisi gagap meraba. Dalam kegelapan orang bisa saling tidak sengaja menjegal atau sengaja menjegal satu sama lain. Dalam kegelapan orang tidak akan pernah tau mana pelaku dan mana korban. Dalam kegelapan hukum bisa berlaku tidak sebagaimana mestinya. Karena dalam kegelapan orang tidak bisa melihat antara wajah yang satu dengan wajah lainnya. Bahkan setiap mereka tidak bisa melihat dan membayangkan wajah mereka sendiri.
#Ahh... Kenapa istriknya padam terus?
"Ya Rosulallah salamun 'alaik
Ya Rofi'asya Ni Waddaroji
'Atfatayyaji rotal'alami
Ya uhailalju diwalkaromi."
Itulah sebagian syair yang masih saya ingat.
Dalam kegelapan kami senantiasa berdoa semoga akan ada cahaya. Ya, cahaya. Untuk membantu kami supaya benar dalam melangkah. Karena dalam kegelapan terdapat kengerian yang tak pernah terbantahkan. Dalam kegelapan orang tidak akan tau mana utara mana selatan. Dalam kegelapan orang tidak tau mana barang yang benar dan mana yang salah. Dalam gelap orang akan melangkah dalam kondisi gagap meraba. Dalam kegelapan orang bisa saling tidak sengaja menjegal atau sengaja menjegal satu sama lain. Dalam kegelapan orang tidak akan pernah tau mana pelaku dan mana korban. Dalam kegelapan hukum bisa berlaku tidak sebagaimana mestinya. Karena dalam kegelapan orang tidak bisa melihat antara wajah yang satu dengan wajah lainnya. Bahkan setiap mereka tidak bisa melihat dan membayangkan wajah mereka sendiri.#Ahh... Kenapa istriknya padam terus?
Langgan:
Entri (Atom)
Kategori
- Belajar Cerpen (3)
- Catatan Harian (16)
- Diary Ramadhan (13)
- Oase (1)
- Puisi (2)





